Belakangan ini, media sosial kembali ramai membahas hubungan antara kalangan santri dan ormas Islam, khususnya setelah salah satu tayangan televisi menyinggung soal pesantren dan munculnya berbagai komentar yang saling menuding.
Di tengah suasana seperti itu, beredar pula tulisan yang menyimpulkan bahwa “jikalau pondok pesantren NU tidak pernah ada, maka dakwah Muhammadiyah tidak akan seperti sekarang.”
Kalimat ini menimbulkan beragam tanggapan. Sebagian besar menganggap bentuk penghormatan terhadap sejarah, sebagian lain menilai seolah-olah ada upaya membungkam kritik dari kader Muhammadiyah terhadap NU
Sejarah Bukan Alasan untuk Membungkam Kritik
Benar bahwa dalam perjalanan sejarah Islam di Indonesia, hubungan antara NU dan Muhammadiyah ibarat dua sisi mata uang.
Keduanya sama-sama berjuang menegakkan dakwah dan pendidikan Islam, meski dengan cara dan pendekatan yang berbeda.
Banyak tokoh muhammadiyah yang lahir dari tradisi pesantren, sebagaimana ada pula warga NU yang belajar dari gagasan pembaruan muhammadiyah.
Namun, mengingat jasa masa lalu bukan berarti menghapus ruang kritik di masa kini.
Dalam Islam, amar ma'ruf nahi munkar adalah prinsip universal bukan milik satu kelompok saja.
Rasulullah ﷺ sendiri terbuka terhadap nasehat dan masukan sahabat-sahabatnya. Maka dari itu, ormas Islam pun seharusnya saling menasihati, bukan saling menutup diri dari kritik yang membangun.
Kritik Bukan Hujatan
Perlu dibedakan antara kritik dan hujatan.
Kritik lahir dari niat memperbaiki dan menjaga kemurnian dakwah, sedangkan hujatan muncul dari hawa nafsu dan fanatisme.
Jika ada kekeliruan di lingkungan pesantren atau lembaga Islam mana pun, maka mengoreksi dengan adab dan argumentasi ilmiah adalah sikap yang jauh lebih mulia dibandingkan menebar hinaan di dunia maya.
Begitu pula sebaliknya, pihak yang dikritik seharusnya tidak langsung menuduh pengkritik sebagai pembenci.
Justru melalui kritik, umat Islam dapat memperkuat keilmuan, keikhlasan, dan akhlak dalam berdakwah.
Ukhuwah di Atas Perbedaan
NU dan Muhammadiyah sama-sama lahir dari semangat mencerdaskan umat dan memajukan Islam di Nusantara.
Perbedaan tampilan dalam hal metode dakwah, fikih, atau pendidikan tidak seharusnya menjadi tirai pemisah.
Kedua ibarat dua sayap yang mengangkat Islam di Indonesia agar tetap kokoh dan berwibawa di tengah perubahan zaman.
Jika umat Islam terpecah karena perbedaan organisasi, maka musuh sejati bukanlah kelompok lain melainkan kebencian dan kebencian di dalam diri sendiri.
Maka tugas kita hari ini adalah melanjutkan dakwah dengan saling menghormati dan saling menasihati.
Belajarlah dari Sejarah, Tapi Jangan Terikat Padanya
Sejarah memang penting untuk dihormati, namun jangan sampai dijadikan alasan untuk menutup dialog ruang.
Baik NU maupun Muhammadiyah harus terus tumbuh dalam semangat ilmu dan keterbukaan.
Kritik yang jujur dan sopan bukanlah penghinaan, melainkan tanda cinta terhadap Islam dan kemajuan umat.
Penutup:
Mari kita jaga ukhuwah, bukan hanya dengan saling memuji, tapi juga dengan berani mengingatkan dalam kebaikan.
Karena Islam tidak mengajarkan feodalisme spiritual, melainkan mengajarkan adab, kejujuran, dan saling menghargai.
Belajarlah dari sejarah, tapi jangan terikat padanya agar dakwah Islam terus hidup dan berkembang di masa depan.
No comments:
Post a Comment